News

Kyai Mahsun Djayadi: Ini 3 Indikator Kesuksesan Jihad Politik Muhammadiyah ( JIPOLMU) JOURNALNEWS

Written by diana

Foto Kyai Mahsun Djayadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya ketika acara lesehan dan ngopi bareng di Pusat Dakwah Muhammadiyah Surabaya diambil oleh Musa Abdulllah

NEWSTODAY

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sering orang menyangka bahwa satu-satunya indiKator keberhasilan jihad, terutama jihad politik Muhammadiyah, adalah lolosnya kader-kader yang diusung oleh Muhammadiyah masuk dan menjadi DPD, DPR, atau DPRD. Memang indikator itu benar, tetapi hanya sebagian indikator. Ada indikator lain yang tidak kalah penting. Bukan hanya untuk kehidupan napas persyarikatan saat ini, tetapi untuk kehidupan dan napas persyarikatan ke depan.

Di samping itu, perlu dipahamkan kepada warga dan masyarakat kita bahwa sebuah perjuangan itu tidak harus sekali jadi dan berhasil sesuai dengan keinginan. Perjuangan memerlukan kesungguhan, konsistensi atau istikamah, dan tentu butuh kesabaran. Sejauh yang saya amati dan rasakan, ada tiga indikator yang sangat penting sebagai substansi keberhasilan Jipolmu (Jihad Politik Muhammadiyah) 2019.

Pertama, dengan Jipolmu ini, telah bangkit kembali jaringan organisasi, mulai tingkat daerah, cabang, hingga ranting. Ini merupakan fenomena yang amat mahal harganya. Dengan Jipolmu 2019, khususnya bagi persyarikatan Muhammadiyah Kota Surabaya, sungguh amat besar hikmahnya. Setiap sosialisasi yang dilakukan PDM ke PCM-PCM, dan juga PRM-PRM, serta berbagai AUM (amal usaha Muhammadiyah), sungguh luar biasa sambutan mereka.

Ranting yang tadinya “hidup enggan mati tak mau”, dengan Jipolmu ini, bergeliat dan bangkit secara bergelora. Seluruh jaringan di Muhammadiyah, baik struktural maupun AUM (amal usaha Muhammadiyah), terutama di Kota Surabaya ini, terasa connected (tersambung dan siap digerakkan), meskipun masih ada beberapa yang ngandol dan nyeret, tapi alhamdulilah. Mereka dengan suka rela membiayai secara mandiri segala kebutuhan terkait Jipolmu. Bahkan, mereka merasa dirinya sebagai “relawan” yang siap setiap saat untuk digerakkan yakni yang dikenal sebagai PATI JIPOLMU (Pasukan Inti Jihad Politik Muhammadiyah).

Loading...

Kedua, munculnya “kesadaran kolektif” warga Muhammadiyah tentang pentingnya perjuangan di ranah politik tanpa harus menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kesadaran ini memicu munculnya semangat kebersamaan, seakidah, dan seperjuangan. Kaum muslimin dan warga Muhammadiyah memahami bahwa memilih pemimpin yang saleh itu ternyata penting agar kita memiliki wakil yang bisa memperjuangkan aspirasi umat Islam.

Kesadaran ini merupakan fenomena yang amat mahal harganya. Inilah poin yang perlu kita rawat dan pelihara secara istikamah. Perjuangan dengan spirit kebersamaan ini berlaku sepanjang masa, membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan istikamah.

Ketiga, munculnya self confident (rasa percaya diri) di kalangan umat Islam dan warga Muhammadiyah. Semangat ini muncul terutama ketika harga diri umat Islam sering dilecehkan oleh kelompok kafir, adanya kriminalisasi ulama, intimidasi kepada para tokoh penegak kebenaran, dan lain-lain. Maka, dengan Jipolmu ini umat dan warga persyarikatan semakin percaya diri bahwa suatu kebenaran haruslah diperjuangkan. Mereka serta-merta terpanggil untuk menegakkan kebenaran, apa pun risiko yang akan dihadapinya.

Jikapun akhirnya calon anggota DPD Jatim Nadjib Hamid dan caleg DPRD Jatim M. Arif’an tidak lolos menjadi anggota dewan, bukan berarti “Jipolmu telah gagal total”. Itu hanya satu sisi indikator yang gagal, tetapi masih banyak indikator lain yang bisa dibilang sukses.

Nabi Muhammad saw ketika menyaksikan banyaknya sahabat yang merasa jatuh mentalnya gara-gara kalah dalam Perang Uhud tetap meyakinkan dengan motivasi keimanan berdasarkan wahyu yang turun ketika itu:

وَلَا تَهِنُوا۟ فِى ٱبْتِغَآءِ ٱلْقَوْمِ إِن تَكُونُوا۟ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
(Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu mengharap kepada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

*ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

Sumber : Klikmu

Loading...

About the author

diana